Sepatu. Itulah singkatan nama kelas kami. Sepuluh Mipa Satu. Selalu
riang, kekeluargaan yang menghangat, serta tawa yang selalu memecah keheningan
antara kami. Berbagi kebahagiaan satu sama lain. Kesedihan dan kegalauan kami
bagi bersama, kami rasakan bersama.
Namun, semua itu terasa janggal ketika salah satu dari kami
menyembunyikan kesedihan, bahkan kebahagiaannya. Tika. Tiba-tiba Ia aneh.
Sikapnya berubah 180 derajat menjadi emosian tapi pendiam. Awalnya ia sangat
ceria dan selalu menghebohkan kelas.
Semua itu berawal ketika class meeting. Hari itu semua anggota sepatu
berkumpul, kecuali Tika karena ia belum berangkat. Dan bercanda ria sembari
menunggu giliran berlaga di lapangan dalam permainan futsal yang diadakan OSIS.
Dengan muka ditekuk, Tika masuk kelas tanpa menyapa perkumpulan kami, lalu
duduk termenung di mejanya. Perkumpulan kami hening,memperhatikan perubahan
sikap Tika. Tanpa piker panjang, Dea menanyai Tika dari tengah perkumpulan.
“Tika kamu kenapa? Lesu banget. Habis makan apa sih?” Dea menyeletuk
keras.
Tika tak menjawab, bahkan tak menoleh. Dea penasaran, ingin tau apa yang
sebenarnya terjadi. Kepo. Lalu bergegas mendekati Tika.
“Lagi galau yaa? Tanya Dea lagi
“Kenapa sih gangguin aja. Minggir!” Balas Tika. Lalu pergi dari kelas,
entah ke mana.
Dea kembali ke perkumpulan embermania. Lalu mulai membicarakan keanehan
yang melanda. Dea nggedumel sendiri, bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Masih kepo.
“Yaelah De, nggak usah difikir berat kalik. Mungkin Tika baru PMS” Dita
menyeletuk.
“Yah kamu, Dit. Aneh kali, masak PMS sampek segitunya” Dea menjawab.
“Oiya ya, gimana kalau kita kepoin
dia aja?” Usul Dita dengan antusias.
“Yaelah Dit, ke mana aja sih? Dari tadi aku udah kepoin Tika kali. Gimana sih?” jawab Dea dengan tertawa.
“Dita kan tidur hahaha” Bagas menimpali
Setelah bercanda ria, tiba waktunya kelas kami tim putri berlaga. Tika
ikut main. Di tengah permainan, tak sengaja kaki Tika tersenggol lawan. Tika
tidak marah, hanya menyeletuk aneh. Permainan selesai, kelas kami menang. Kami
pemain senang dan tertawa sambil melepas lelah. Tapi tidak dengan Tika, ia
malah berjalan menjauh, meinggalkan kami. Keanehan dirasakan kembali.
Tiga hari berlalu, sejak deretan kejadian yang mengganjal itu. Kami seua masih merasa aneh. Dan Dea tak
henti-hentinya bertanya dan menelaah dengan fikirannya sendiri.a
“Gimana kalau kita datengi aja rumahnya. Tapi jangan semua ke sana, dua
orang aja. Tanyain baik-baik dia kenapa.” Usul Dita.
“Eeh tumben encer otakmu hahaha” Desty menimpali.
“Yaa kali, aku kan brilian.
Kadang haha” Dita menjawab ejekan Desty. Semua tertawa.
“Oke, nanti sore kita ke rumahnya.” Jawab Bobyg.
“Hah? Mau ngapain?” Dita o’on
“Ditaaaa!! Kamu sendiri yang usul!” Ninda jengkel
“oh iya, amit. Jangan semua laah” Jawab Dita datar.
“yaa enggak, Mahira sama Dea aja. Mahira yang rumahnya deket, Dea biar
nggak kepo lagi.” Jawab Desty
memutuskan.
Demi menghangatnya kembali kekeluargaan kami, sore harinya Mahira dan Dea
datang ke rumah Tika. Hendak mengintrogasi. Betapa terkejutnya Mahira dan Dea
melihat Tika dari luar sedang menangis tersedu-sedu di ruang tamunya.
“Astagaa! Tika kamu kenapa nangis?” lagi lagi Dea bertanya dengan mimic
ikut sedih.
“Hah kalian, kalian ngapain ke sini?” Tika malah mengalihkan pembicaraan.
“Main dong. Oh iya, kamu kenapa sih, Tik? Kok jadi murung gitu?” Tanya
Mahira dengan tersenyum.
Akhirnya, Tika mau mencurahkan isi hatinya kepada Mahira dan Dea.
Ternyataa, boneka Tika hilang. Tika menangis bukan karena cengeng. Melainkan
boneka itu adalah pemberian terakhir ibunya. Tika sedih sekali. Sikapnya
berubah karena ia terbawa suasana.
“Jadi itu sebabnya kamu jadi murung kayak gini?” Tanya Dea.
Tika tak menjawab, ia hanya tersenyum datar da berterimakasih atas
kunjungan kedua temannya.
“Makasih yaa, seenggaknya aku lebih lega sekarang.”
“Sama-sama” Jawab Mahira dan Dea bersamaan.
“Yaa udah, kita pulang dulu yaa, Tik” Pamit Mahira sambil memeluk Tika.
“Yaa, sekali lagi makasih” Jawab Tika datar sambil membalas pelukan
Mahira. Lalu bergantian memeluk Dea.
Paginya, seperti biasa perkumpulan embermania sepatu bertemu lagi. Kali
ini Mahira dan Dea membawa kabar hangat yang wajib diketahui oleh anggota
sepatu. Dea mulai menceritakan kisah di rumah Tika kemarin.
“Ooo, jadi itu sebabnya. Gimana kalu kita beliin aja?” Dita menyeletuk
lagi.
“Haaaa??” Semuanya melongo.
“Iya kita ganti aja, seenggaknya dia bisa lega, pemberian dari
sahabatnya.” Jawab Dita datar.
“Hah! Tumben lagi kamu, Dit” Desty mengejek lagi.
“Motivasimu gantiin apa, Dit?” Bobyg heran.
“Yaa seenggaknya dia merasa masih punya keluarga. Kita semua keluarga.
Yaa walaupin enggak seberharga pemberian Ibunya, seenggaknya kita udah berusaha
hihi” Jawab Dita antusias.
“Hihi boleh juga tuu, aku setuju” Mahira menimpali. Bobyg masih mencerna,
yang lainnya setuju. Lalu Bobyg ikut menyetujuinya.
Setelah perundingan itu, embermania sepatu memutuskan iuran untuk membeli
boneka. Setelah itu, mereka pergi ke toko boneka dan membeli sebuah boneka
beruang warna cream dengan tulisan ‘we love you’ di dadanya.
Setelah boneka itu di beli, kemudian Ninda menulis surat yang diselipkan
di boneka itu. Inti suratnya adalah kami berharap agar Tika tidak sedih lagi,
kembali jadi Tika yang dulu. Dalam surat itu juga ditulis ‘we love you, Tika. Kita semua keluarga’ dan kata ini ‘walaupun tak seberharga pemberian Ibu….”
Setelah menulis surat dan membungkus boneka itu, kami pergi ke kantor pos
untuk mengirim boneka itu, agar Tika terkejut. Lalu, kami pulang ke rumah
masing-masing. Sementara itu, Tika sedang melamun di ruang tamunya, tiba-tiba
seorang bapak mengenakan pakaian serba orange. Tukang pos. Tukang pos itu
membuyarkan lamunannya dan memberikan sebuah bingkisan kepada Tika. Tika
menerima bingkisan itu dan kemudian membukanya. Tika terkejut membaca surat
yang terselip dalam boneka itu. Tika meneteskan air matanya. Lalu tersenyum dan
memeluk erat boneka beruang itu.
Esok harinya Tika berangkat ke sekolah dengan gembira. Tak lagi murung
ataupun sedih. Sesampainya di depan kelas, embermania sudah membentuk lingkaran
dan bercanda ria. Seolah itu adalah tradisi. Lalu, Tika masuk dan
berterimakasih kepada teman-temennya.
Air mata Tika kembali menetes. Namun, kali ini bukan tangisan sedih
ataupun duka. Melainkan tangisan haru dan bahagia. Kami semua terharu.
Akhirnya, Tika kembali menjadi Tika yang kami kenal. Tika yang ceria dan
menghebohkan seisi kelas.
Kekeluargaan yang sempat dingin, kini kembali menghangat. Tawa yang
sempat mereda, kini kembali membuncah. Dan kami akan selalu menjaga satu sama
lain.
&&&&&