Perpisahan.
Hal yang paling dibenci oleh semua orang. Perpisahan menyebabkan semua orang
kalut dalam kesedihan. Teringat semua kenangan yang pernah mengalir memaksa
kita seolah mengulang waktu ketika kita masih bersama. Hal itulah yang aku
rasakan saat ini. Aku Kanaya Rizky Az-Zahra. Panggil saja Aya. Gadis kecil yang
periang, dan menghebohkan tempat di mana aku berada. Perihnya perpisahan juga
aku rasakan bersama teman dekatku. Ia adalah Arjuna Pratama. Panggil saja Juna.
Laki-laki tinggi dan periang serta sombong
inilah yang berhasil menggetarkan hatiku. Aku dan Juna memang bukan
sepasang kekasih remaja, bukan pula sepasang remaja yang kasmaran. Kami hanya
berteman. Pertemanan kami hangat, akrab dan sangat dekat. Pertemanan yang
sungguh rumit. Keadaan yang sulit ditebak. Kini, dia telah pergi. Menemani sang
nenek di pulau seberang. Meninggalkanku bersama kenangan yang pernah kami
rangkai bersama. Menyayangi memang mudah. Tapi melepaskan seorang yang kita
sayangi adalah pilihan buruk yang harus dilakukan.
***
SMAN
37 Yogyakarta. Sekolahku yang sangat aku banggakan. Aku masuk SMA favorit itu
dengan nilai SMP yang cukup melegakan. Sekolah itu aman, nyaman dan tentunya
tujuan utamaku. Jutaan alasan dan pertimbangan untuk masuk sekolah itu telah
aku pikirkan matang. Jadilah aku diterima di sekolah itu. Aku di tempatkan di
kelas X MIA 1. Karena sekolah itu telah menggukan kurikulum 2013, jadi kelas X
langsung penjurusan. MIA atau IIS. Di kelas itu, aku menemukan banyak hal baru.
Termasuk orang baru. Ada seorang cowok pindahan yang kelihatannya dia
menyebalkan. Sombong, cuek, ah menyebalkan sekali.
Ketika
MOS, ada sesi perkenalan. Aku memperkenalkan diriku di depan teman-teman
baruku. Semua antusias memperhatikan setiap teman yang memperkenalkan diri
masing-masing. Kecuali Juna. Ketika aku maju, Juna berpura-pura melihat ke arah
lain, dan ketika aku mulai berbicara, ia membuat kegaduhan sendiri. Menyebalkan
sendiri. Karena perkenalan itu dilakukan secara acak dan aku mendapat giliran
ke tiga yang ditunjuk, jadi Juna belum memperkenalkan dirinya.
“Eeh,
eh, siapa sih yang maju? Nggak kelihatan hahaha” Juna menyeloteh, kemudian
disambut tawa oleh seisi kelas.
“Iih,
apaan sih kamu!” Jawabku sinis.
Memang
sih, aku adalah gadis yang bisa dikatakan pendek jika dibandingkan dengan teman
yang lain. Tinggiku hanya 155 cm. Sedangkan teman-temanku relatif tingginya
160-170an. Tapi tak seharusnya Juna mengejekku seperti itu. Menyakitkan.
Padahal aku juga belum memperkenalkan diriku, langsung aja dia mengajak
berantem. Menyebalkan.
Akhirnya,
aku selesai memperkenalkan diriku. Kemudian aku kembali ke tempat dudukku.
Selanjutnya giliran Rara, teman sebangkuku. Rara cantik, berhidung mancung,
tingginya semampai dan kulitnya putih. Tapi dia non muslim. Sedangkan aku, aku
pendek, hidungku tak semancung hidung Rara. Kata teman-temanku, wawasan Agama Islamku
agak luas. Aku adalah remaja berjilbab ke manapun aku pergi. Ketika Rara maju,
semua terlihat antusias dan memperhatikan Rara. Tapi Juna tidak. Ia malah
semakin menoleh ke arah yang lain. Ih, sombong sekali.
Rara
selesai, dilanjutkan dengan perkenalan teman yang lainnya. Hingga akhirnya tiba
giliran Juna, saat yang aku tunggu. Aku mau melihat seperti apa dia orangnya.
“Nah
dek, sekarang giliran kamu!” kata Kak Yudha, OSIS yang ditugaskan membimbing X
MIA 1. Dengan sombong Juna maju ke depan.
“Halo
teman-teman, namaku Arjuna Pratama. Panggil saja Juna” kata Juna memulai.
“Haaaii
Junaaa!” spontan semua temanku merespon Juna. Tapi tidak dengan aku, aku hanya
diam saja. Memang sih, Juna ganteng. Hidungnya mancung, perawakannya tinggi
agak kurus. Kulitnya sawo matang. Tapi aku tidak menghiraukan itu. Dia sombong.
“Aku
adalah pindahan dari Bandung.” sambung Juna
“Ooh,
kamu pindahan? Kenapa pindah ke Jogja?” tanya Laras.
“Papaku
TNI, jadi kebetulan dipindah ke Jogja.” kata Juna bangga.
“Ooh
pantesan.” kataku lirih.
“Aku
di sini tinggal dengan pamanku. Rumahnya Bantul. Kapan aja kalian boleh main
kok.” kata Juna lagi.
“Okee,
siap!” jawab Satria.
Perkenalan
Juna selesai, sekaligus mengakhiri sesi perkenalan MOS siang itu.
***
Beberapa
hari setelah MOS, pelajaran telah dimuali, sikap Juna tak berubah. Dari awal
menunjukkan bahwa karakter Juna memang seperti itu. Aku biasa saja. Tapi Juna
selalu mancing emosiku. Sebenarnya tidak memancing untuk adu fisik, tapi selalu
memancingku untuk adu mulut. Setiap hari yang kami lakukan adalah berdebat.
Seolah berdebat adalah hobi dan kebiasaan kami. Segala hal kami perdebatkan.
Bahkan, hal kecil saja kami perdebatkan, hal-hal tidak penting, dan lain
sebagainya.
Tiada
hari tanpa berdebat. Itulah moto yang diberikan untuk aku dan Juna. Itu memang
benar, karena setiap jam, menit, bahkan detik sekalipun, kami selalu berdebat
dan beradu argumen. Hingga seorang guru pernah berpesan untuk berhati-hati.
Sebab, orang yang biasa bertengkar, ketika pisah pasti akan kangen satu sama
lain, bahkan bisa berjodoh. Itu sih mitos, aku berpikiran seperti itu. Semua
temanku menyetujui pendapat ibu guru itu. Setiap aku dan Juna hendak berdebat,
kelasku langsung gaduh, berteriak aneh-aneh. Tiap kali itu terjadi, aku
langsung menundukkan kepala. Menahan rasa, entah rasa apa itu aku tak tahu.
Begitu pula dengan Juna, ia juga melakukan hal yang sama. Ketika hal itu
terjadi, aku tak punya nyali kuat untuk menunjukkan ekspresi wajahku. Pernah
sekali aku melirik ke arah Juna yang duduk di seberangku, ia tertunduk dan
menahan senyum. Tapi aku jengkel. Karena kami selalu menjadi gosip terpanas
yang harus diketahui.
Tak
ada hentinya aku dan Juna berdebat dan beradu argumen. Untunglah gosip itu
mereda secara perlahan. Mungkin mereka lelah. Tapi itu sangat menguntungkan
aku, karena aku tak perlu lagi menyembunyikan wajahku. Hanya beberapa teman
yang masih meggosipkanku dengan Juna. Aku cuek dengan gosip mereka. Tapi tidak
dengan Juna, ia selalu tertawa kecil ketika gosip itu kembali merekah.
Hari-hari
berlalu. Secara perlahan, aku dapat dengan Juna, perdebatan memang masih ada.
Tapi karena aku adalah gadis yang lola
– loading lama, Juna sedikit memaklumi. Jadi, kadang ia mengalah. Dan aku pun
mulai bisa memahami karekter Juna, ia adalah seorang yang pandai, cerdas,
humoris, pandai bergaul dan asyik ketika bercanda dan bisa menempatkan diri
ketika harus serius. Tapi sayangnya, kadang ia sombong dan semaunya sendiri.
Juna itu alay, narsis. Ia sadar
kamera. Tidak ada bedanya dengan aku. Aku juga alay dan narsis. Bahkan,
ketika ada waktu luang sedikit saja pasti aku berfoto.
Suatu
ketika, setelah pelajaran olahraga, tiba-tiba Juna duduk di bangku sebelahku,
tempat duduk Rara. Rara sedang berganti pakaian seragam, jadi bangkunya kosong.
Tiba-tiba ia berkisah, menceritakan hidupnya dengan pacarnya yang ada di
Bandung. Aku tahu Juna sudah punya pacar. Aku bukan kecewa, tapi aku terkejut.
Aku heran, kenapa tiba-tiba Juna curhat padaku. Aku mengikuti alur ceritanya
hari itu. Memperhatikannya. Sambil sesekali memberikan komentar mengenai
ceritanya itu. Aku juga memberikan sedikit wejangan dan menasihatinya. Meskipun
aku sendiri belum pernah pacaran, tapi aku juga pernah menyukai lawan jenisku.
Aku juga perempuan, jadi aku tahu dan ikut merasakan bagaimana perasaan
pacarnya Juna. Apalagi mereka menjalin hubungan jarak jauh.
“Yaa
kalau kamu emang sayang sama dia, kamu harus menjaga dia. Apalagi kalian
pacaran jarak jauh.” komentarku.
“Iyaa,
Aya. Tapi aku sering banget bertengkar sama dia.” lanjut Juna.
“Hubungan
pasti ada pertengkaran, perdebatan, perbedaan pendapat, kecemburuan. Itu wajar,
Juna.” sambungku
“Apa
itu tandanya aku masih bisa lanjut?” tanya Juna lagi.
“Selama
kamu menikmati dan hatimu senang, kenapa enggak.” kataku.
“Okee
sih, makasih yaa, Aya.” kata Juna.
“Okee,
sama-sama.” balasku.
Sejak
percakapan kecil itu, aku dan Juna menjadi dekat. Aku juga berani curhat sama
Juna. Ternyata Juna adalah pendengar yang baik, dia mendengarkan perkataanku
sampai selesai, memberikan nasihat kepadaku. Dia penyayang. Bahkan dia bisa
bersikap dewasa ketika menghadapi kekanak-kanakanku. Itu yang membuat banyak
orang yang nyaman dengan Juna meskipun kadang dia jahil dan sombong.
Ketika
kakak kelas XII menjalani serangkaian ujian, teman-teman sekelasku merencanakan
untuk main bareng. Malamnya Satria mengabari aku kalau besuk kelas mau main
bareng ke Gunung Kidul. Aku menyetujuinya. Lalu aku juga menyebarkan pesan itu
kepada teman yang lain. Balasan teman-temanku semua setuju atau tidak. Kecuali
Juna. Ia justru membalas jauh dari topik pembicaraan.
“Aya,
aku mau curhat. Boleh nggak?” isi pesan Juna.
“Boleh.
Silahkan.” balasku singkat.
“Kalau
aku suka sama Kirana menurutmu gimana?” Juna memulai curhatnya.
“Hah
Kirana? Bukannya Satria udah suka duluan sama Kirana?” tanyaku heran.
“Yaa
saingan dong.” jawab Juna singkat.
“Terus
yang di Bandung?” kejarku lagi.
“Udah
lepas.” jawab Juna lagi.
“Astagaa!
Kenapa putus?” aku semakin penasaran.
“Dia
makin aneh. Aku nggak betah. Udahlah, jangan dibahas lagi. Kirana gimana?” Juna
memutuskan.
“Sejak
kapan kamu suka sama Kirana?” tanyaku.
“Sebenernya
sih, udah lama aku melirik dia.” jawab Juna mengakui.
“Alasanmu?”
aku mengintrogasi Juna.
“Dia
cantik, ngobrol sama aku nyambung. Terus senyumnya itu lhoo, bikin adeem haha.”
jelas Juna.
“Yaa
udah, aku ngikut kamu aja. Yang penting hatimu senang dan kamu bahagia. Tapi
kamu harus bergerilya, jangan sampai menyakiti Satria.” pesanku.
“Siap
bos!” balas Juna.
Jawaban
itu sekaligus mengakhiri percakapan kami via SMS. Paginya, kelas kami main
bareng. Semua berkumpul di rumah Yusuf. Yang cowok harus memboncengkan yang
cewek karena jalannya nanjak. Semua sudah mendapatkan pasangan masing-masing.
Tinggal aku dan Juna yang belum. Karena kebetulan aku agak terlambat. Begitu
pula dengan Juna. Lalu teman-temanku memutuskan aku harus nebeng Juna.
“Haha
Aya, kamu telat.” Rara memulai.
“Haha
Juna juga telat.” Sambung Satria.
“Kalian
janjian yaa haha.” Laras menimpali.
“Eng..enggak!”
Aku dan Juna bersamaan.
“Ciyee..
kompak bangeet haha.” Sinta ikut menggoda. Sedangkan aku dan Juna cuma diam dan
wajah kami seperti udang rebus. Merah padam.
Setelah
tragedi itu, kami berangkat. Aku duduk di belakang Juna. Suasana perjalanan
kami canggung. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya aku membuka pembicaraan,
sekedar basa-basi menanyakan perkembangan hubungan Juna dengan Kirana untuk
menghilangkan kecanggungan.
“Gimana
gerilyamu, Jun?” aku memulai.
“Haha
sukses dong, aku kontak dia terus haha.” jawab Juna bangga.
“Kirana
merespon kamu?” tanyaku lagi.
“Iyaa
dong haha.” balas Juna.
Lalu
aku terus bertanya dan Juna dengan sabar menjawab semua pertanyaanku. Aku juga
menanyakan keluarganya. Adiknya, kakaknya, papa mamanya, bahkan neneknya. Juna
juga menjawab sambil bercanda di perjalanan. Aku juga bertanya pada Juna
tentang kriteria cewek idaman Juna hanya untuk basa-basi saja.
“Juna,
Juna. Emang cewek idaman kamu kayak gimana sih?” tanyaku polos.
“Hehe
yang penting orang itu nyambung ngobrol sama aku.” jawabnya.
“Ooo..”
jawabku datar.
“Ada
satu lagi sebenarnya.” tambahnya.
“Apa?”
tanyaku datar.
“Berjilbab.”
jawab Juna singkat.
“Hah?
Kenapa emang dengan cewek berjilbab?” tanyaku kaget.
“Yaa
nggak papa. Gadis berjilbab itu cantik. Kalau yang enggak berjilbab itu udah
sering lihat hihi.” jawab Juna.
“Ooh
gitu. Berarti kamu nggak terpesona sama Rara?” Tanyaku heran.
“Biasa
aja sih aku.” balas Juna sambil tersenyum.
“Ooh
gituu.” jawabku setengah kagum. Ternyata cowok kayak Juna cara pandangnya
bagus.
Sejak
acara itu, aku dan Juna semakin dekat dan rekat. Setiap kali bertemu di sekolah
dia curhat padaku mengenai Kirana. Tapi aku merasa kedekatan ini semakin aneh.
Aku pernah melihat dia mencuri pandang ke arahku. Tak jarang juga tatapan mata
kami bertemu. Dan bodohnya aku, aku tak bisa menata hati dan perasaanku. Aku
tak tahu rasa apa yang kini ada di hatiku. Tapi getar ini nyata. Rasa sayang
persahabatan tumbuh dengan sendirinya. Entah kapan rasa itu muncul, tapi baik
aku atau Juna tak pernah mengungkapkan. Suatu ketika, kami bermain mencari kata
singkat dalam permen. Dia menemukan kata ‘aku saying kamu’ dia mengatakan itu
di depanku, tepat di hadapanku. Entah modus
atau apa, yang jelas aku terguncang, kaget. Debaran jantung tak ada hentinya.
Justru bertambah kencang. Untunglah aku bisa menata ulang hatiku, aku tertawa
hambar lalu berkata ‘haha sampaikan aja ke dia.’
Kejadian
itu membuatku merasa aneh dengan hatiku sendiri. Waktu terus bergulir, hingga
terdengar kabar bahwa Juna akan pindah ke Lampung, Sumatra. Mendengar kabar
itu, sontak aku tertunduk, hatiku terguncang. Ingin rasanya aku meneteskan air
mata. Namun, aku sadar, aku di sekolah, di hadapan teman-temanku. Lagi pula aku
bukan siapa-siapa Juna. Kami hanya berteman.
Tanggal
keberangkatan tiba, setelah ujian kenaikan kelas. Tiket sudah di tangan Juna.
Kaki telah kami injakkan di bandara Adi Soetjipto. Aku dan semua teman kelasku
mengantar keberangkatan Juna. Sebelum benar-benar berpisah, teman-temanku
berfoto dengan Juna. Begitu pula aku, aku foto
berdua saja dengan Juna, untuk pertama dan terakhir kalinya. Nomor
pesawat Juna disebutkan. Itu tandanya Juna harus segera menaiki pesawatnya.
Juna terburu-buru menaiki pesawatnya. Ingin rasanya aku berlari mengejar Juna,
memeluk erat tubuhnya dan mengatakan ‘aku sayang kamu’. Tapi keinginan itu
terhalang oleh rasa gengsi dan
takutku. Karena aku sadar, aku bukan siapa-siapa Juna. Kami hanya berteman.
