Selasa, 15 April 2014

"walau tak seberharga pemberian Ibu"

Sepatu. Itulah singkatan nama kelas kami. Sepuluh Mipa Satu. Selalu riang, kekeluargaan yang menghangat, serta tawa yang selalu memecah keheningan antara kami. Berbagi kebahagiaan satu sama lain. Kesedihan dan kegalauan kami bagi bersama, kami rasakan bersama.
Namun, semua itu terasa janggal ketika salah satu dari kami menyembunyikan kesedihan, bahkan kebahagiaannya. Tika. Tiba-tiba Ia aneh. Sikapnya berubah 180 derajat menjadi emosian tapi pendiam. Awalnya ia sangat ceria dan selalu menghebohkan kelas.
Semua itu berawal ketika class meeting. Hari itu semua anggota sepatu berkumpul, kecuali Tika karena ia belum berangkat. Dan bercanda ria sembari menunggu giliran berlaga di lapangan dalam permainan futsal yang diadakan OSIS. Dengan muka ditekuk, Tika masuk kelas tanpa menyapa perkumpulan kami, lalu duduk termenung di mejanya. Perkumpulan kami hening,memperhatikan perubahan sikap Tika. Tanpa piker panjang, Dea menanyai Tika dari tengah perkumpulan.
“Tika kamu kenapa? Lesu banget. Habis makan apa sih?” Dea menyeletuk keras.
Tika tak menjawab, bahkan tak menoleh. Dea penasaran, ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Kepo. Lalu bergegas mendekati Tika.
“Lagi galau yaa? Tanya Dea lagi
“Kenapa sih gangguin aja. Minggir!” Balas Tika. Lalu pergi dari kelas, entah ke mana.
Dea kembali ke perkumpulan embermania. Lalu mulai membicarakan keanehan yang melanda. Dea nggedumel sendiri, bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Masih kepo.
“Yaelah De, nggak usah difikir berat kalik. Mungkin Tika baru PMS” Dita menyeletuk.
“Yah kamu, Dit. Aneh kali, masak PMS sampek segitunya” Dea menjawab.
“Oiya ya, gimana kalau kita kepoin dia aja?” Usul Dita dengan antusias.
“Yaelah Dit, ke mana aja sih? Dari tadi aku udah kepoin Tika kali. Gimana sih?” jawab Dea dengan tertawa.
“Dita kan tidur hahaha” Bagas menimpali
Setelah bercanda ria, tiba waktunya kelas kami tim putri berlaga. Tika ikut main. Di tengah permainan, tak sengaja kaki Tika tersenggol lawan. Tika tidak marah, hanya menyeletuk aneh. Permainan selesai, kelas kami menang. Kami pemain senang dan tertawa sambil melepas lelah. Tapi tidak dengan Tika, ia malah berjalan menjauh, meinggalkan kami. Keanehan dirasakan kembali.
Tiga hari berlalu, sejak deretan kejadian yang mengganjal  itu. Kami seua masih merasa aneh. Dan Dea tak henti-hentinya bertanya dan menelaah dengan fikirannya sendiri.a
“Gimana kalau kita datengi aja rumahnya. Tapi jangan semua ke sana, dua orang aja. Tanyain baik-baik dia kenapa.” Usul Dita.
“Eeh tumben encer otakmu hahaha” Desty menimpali.
“Yaa kali, aku kan brilian. Kadang haha” Dita menjawab ejekan Desty. Semua tertawa.
“Oke, nanti sore kita ke rumahnya.” Jawab Bobyg.
“Hah? Mau ngapain?” Dita o’on
“Ditaaaa!! Kamu sendiri yang usul!” Ninda jengkel
“oh iya, amit. Jangan semua laah” Jawab Dita datar.
“yaa enggak, Mahira sama Dea aja. Mahira yang rumahnya deket, Dea biar nggak kepo lagi.” Jawab Desty memutuskan.
Demi menghangatnya kembali kekeluargaan kami, sore harinya Mahira dan Dea datang ke rumah Tika. Hendak mengintrogasi. Betapa terkejutnya Mahira dan Dea melihat Tika dari luar sedang menangis tersedu-sedu di ruang tamunya.
“Astagaa! Tika kamu kenapa nangis?” lagi lagi Dea bertanya dengan mimic ikut sedih.
“Hah kalian, kalian ngapain ke sini?” Tika malah mengalihkan pembicaraan.
“Main dong. Oh iya, kamu kenapa sih, Tik? Kok jadi murung gitu?” Tanya Mahira dengan tersenyum.
Akhirnya, Tika mau mencurahkan isi hatinya kepada Mahira dan Dea. Ternyataa, boneka Tika hilang. Tika menangis bukan karena cengeng. Melainkan boneka itu adalah pemberian terakhir ibunya. Tika sedih sekali. Sikapnya berubah karena ia terbawa suasana.
“Jadi itu sebabnya kamu jadi murung kayak gini?” Tanya Dea.
Tika tak menjawab, ia hanya tersenyum datar da berterimakasih atas kunjungan kedua temannya.
“Makasih yaa, seenggaknya aku lebih lega sekarang.”
“Sama-sama” Jawab Mahira dan Dea bersamaan.
“Yaa udah, kita pulang dulu yaa, Tik” Pamit Mahira sambil memeluk Tika.
“Yaa, sekali lagi makasih” Jawab Tika datar sambil membalas pelukan Mahira. Lalu bergantian memeluk Dea.
Paginya, seperti biasa perkumpulan embermania sepatu bertemu lagi. Kali ini Mahira dan Dea membawa kabar hangat yang wajib diketahui oleh anggota sepatu. Dea mulai menceritakan kisah di rumah Tika kemarin.
“Ooo, jadi itu sebabnya. Gimana kalu kita beliin aja?” Dita menyeletuk lagi.
“Haaaa??” Semuanya melongo.
“Iya kita ganti aja, seenggaknya dia bisa lega, pemberian dari sahabatnya.” Jawab Dita datar.
“Hah! Tumben lagi kamu, Dit” Desty mengejek lagi.
“Motivasimu gantiin apa, Dit?” Bobyg heran.
“Yaa seenggaknya dia merasa masih punya keluarga. Kita semua keluarga. Yaa walaupin enggak seberharga pemberian Ibunya, seenggaknya kita udah berusaha hihi” Jawab Dita antusias.
“Hihi boleh juga tuu, aku setuju” Mahira menimpali. Bobyg masih mencerna, yang lainnya setuju. Lalu Bobyg ikut menyetujuinya.
Setelah perundingan itu, embermania sepatu memutuskan iuran untuk membeli boneka. Setelah itu, mereka pergi ke toko boneka dan membeli sebuah boneka beruang warna cream dengan tulisan ‘we love you’ di dadanya.
Setelah boneka itu di beli, kemudian Ninda menulis surat yang diselipkan di boneka itu. Inti suratnya adalah kami berharap agar Tika tidak sedih lagi, kembali jadi Tika yang dulu. Dalam surat itu juga ditulis ‘we love you, Tika. Kita semua keluarga’ dan kata ini ‘walaupun tak seberharga pemberian Ibu….”
Setelah menulis surat dan membungkus boneka itu, kami pergi ke kantor pos untuk mengirim boneka itu, agar Tika terkejut. Lalu, kami pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu, Tika sedang melamun di ruang tamunya, tiba-tiba seorang bapak mengenakan pakaian serba orange. Tukang pos. Tukang pos itu membuyarkan lamunannya dan memberikan sebuah bingkisan kepada Tika. Tika menerima bingkisan itu dan kemudian membukanya. Tika terkejut membaca surat yang terselip dalam boneka itu. Tika meneteskan air matanya. Lalu tersenyum dan memeluk erat boneka beruang itu.
Esok harinya Tika berangkat ke sekolah dengan gembira. Tak lagi murung ataupun sedih. Sesampainya di depan kelas, embermania sudah membentuk lingkaran dan bercanda ria. Seolah itu adalah tradisi. Lalu, Tika masuk dan berterimakasih kepada teman-temennya.
Air mata Tika kembali menetes. Namun, kali ini bukan tangisan sedih ataupun duka. Melainkan tangisan haru dan bahagia. Kami semua terharu. Akhirnya, Tika kembali menjadi Tika yang kami kenal. Tika yang ceria dan menghebohkan seisi kelas.
Kekeluargaan yang sempat dingin, kini kembali menghangat. Tawa yang sempat mereda, kini kembali membuncah. Dan kami akan selalu menjaga satu sama lain.


                                                                &&&&&

Tidak ada komentar:

Posting Komentar