Kamis, 29 Mei 2014

pertama dan terakhir

Perpisahan. Hal yang paling dibenci oleh semua orang. Perpisahan menyebabkan semua orang kalut dalam kesedihan. Teringat semua kenangan yang pernah mengalir memaksa kita seolah mengulang waktu ketika kita masih bersama. Hal itulah yang aku rasakan saat ini. Aku Kanaya Rizky Az-Zahra. Panggil saja Aya. Gadis kecil yang periang, dan menghebohkan tempat di mana aku berada. Perihnya perpisahan juga aku rasakan bersama teman dekatku. Ia adalah Arjuna Pratama. Panggil saja Juna. Laki-laki tinggi dan periang serta sombong  inilah yang berhasil menggetarkan hatiku. Aku dan Juna memang bukan sepasang kekasih remaja, bukan pula sepasang remaja yang kasmaran. Kami hanya berteman. Pertemanan kami hangat, akrab dan sangat dekat. Pertemanan yang sungguh rumit. Keadaan yang sulit ditebak. Kini, dia telah pergi. Menemani sang nenek di pulau seberang. Meninggalkanku bersama kenangan yang pernah kami rangkai bersama. Menyayangi memang mudah. Tapi melepaskan seorang yang kita sayangi adalah pilihan buruk yang harus dilakukan.
                                                            ***
SMAN 37 Yogyakarta. Sekolahku yang sangat aku banggakan. Aku masuk SMA favorit itu dengan nilai SMP yang cukup melegakan. Sekolah itu aman, nyaman dan tentunya tujuan utamaku. Jutaan alasan dan pertimbangan untuk masuk sekolah itu telah aku pikirkan matang. Jadilah aku diterima di sekolah itu. Aku di tempatkan di kelas X MIA 1. Karena sekolah itu telah menggukan kurikulum 2013, jadi kelas X langsung penjurusan. MIA atau IIS. Di kelas itu, aku menemukan banyak hal baru. Termasuk orang baru. Ada seorang cowok pindahan yang kelihatannya dia menyebalkan. Sombong, cuek, ah menyebalkan sekali.
Ketika MOS, ada sesi perkenalan. Aku memperkenalkan diriku di depan teman-teman baruku. Semua antusias memperhatikan setiap teman yang memperkenalkan diri masing-masing. Kecuali Juna. Ketika aku maju, Juna berpura-pura melihat ke arah lain, dan ketika aku mulai berbicara, ia membuat kegaduhan sendiri. Menyebalkan sendiri. Karena perkenalan itu dilakukan secara acak dan aku mendapat giliran ke tiga yang ditunjuk, jadi Juna belum memperkenalkan dirinya.
“Eeh, eh, siapa sih yang maju? Nggak kelihatan hahaha” Juna menyeloteh, kemudian disambut tawa oleh seisi kelas.
“Iih, apaan sih kamu!” Jawabku sinis.


Memang sih, aku adalah gadis yang bisa dikatakan pendek jika dibandingkan dengan teman yang lain. Tinggiku hanya 155 cm. Sedangkan teman-temanku relatif tingginya 160-170an. Tapi tak seharusnya Juna mengejekku seperti itu. Menyakitkan. Padahal aku juga belum memperkenalkan diriku, langsung aja dia mengajak berantem. Menyebalkan.
Akhirnya, aku selesai memperkenalkan diriku. Kemudian aku kembali ke tempat dudukku. Selanjutnya giliran Rara, teman sebangkuku. Rara cantik, berhidung mancung, tingginya semampai dan kulitnya putih. Tapi dia non muslim. Sedangkan aku, aku pendek, hidungku tak semancung hidung Rara. Kata teman-temanku, wawasan Agama Islamku agak luas. Aku adalah remaja berjilbab ke manapun aku pergi. Ketika Rara maju, semua terlihat antusias dan memperhatikan Rara. Tapi Juna tidak. Ia malah semakin menoleh ke arah yang lain. Ih, sombong sekali.
Rara selesai, dilanjutkan dengan perkenalan teman yang lainnya. Hingga akhirnya tiba giliran Juna, saat yang aku tunggu. Aku mau melihat seperti apa dia orangnya.
“Nah dek, sekarang giliran kamu!” kata Kak Yudha, OSIS yang ditugaskan membimbing X MIA 1. Dengan sombong Juna maju ke depan.
“Halo teman-teman, namaku Arjuna Pratama. Panggil saja Juna” kata Juna memulai.
“Haaaii Junaaa!” spontan semua temanku merespon Juna. Tapi tidak dengan aku, aku hanya diam saja. Memang sih, Juna ganteng. Hidungnya mancung, perawakannya tinggi agak kurus. Kulitnya sawo matang. Tapi aku tidak menghiraukan itu. Dia sombong.
“Aku adalah pindahan dari Bandung.” sambung Juna
“Ooh, kamu pindahan? Kenapa pindah ke Jogja?” tanya Laras.
“Papaku TNI, jadi kebetulan dipindah ke Jogja.” kata Juna bangga.
“Ooh pantesan.” kataku lirih.
“Aku di sini tinggal dengan pamanku. Rumahnya Bantul. Kapan aja kalian boleh main kok.” kata Juna lagi.
“Okee, siap!” jawab Satria.
Perkenalan Juna selesai, sekaligus mengakhiri sesi perkenalan MOS siang itu.
                                                            ***
Beberapa hari setelah MOS, pelajaran telah dimuali, sikap Juna tak berubah. Dari awal menunjukkan bahwa karakter Juna memang seperti itu. Aku biasa saja. Tapi Juna selalu mancing emosiku. Sebenarnya tidak memancing untuk adu fisik, tapi selalu memancingku untuk adu mulut. Setiap hari yang kami lakukan adalah berdebat. Seolah berdebat adalah hobi dan kebiasaan kami. Segala hal kami perdebatkan. Bahkan, hal kecil saja kami perdebatkan, hal-hal tidak penting, dan lain sebagainya.
Tiada hari tanpa berdebat. Itulah moto yang diberikan untuk aku dan Juna. Itu memang benar, karena setiap jam, menit, bahkan detik sekalipun, kami selalu berdebat dan beradu argumen. Hingga seorang guru pernah berpesan untuk berhati-hati. Sebab, orang yang biasa bertengkar, ketika pisah pasti akan kangen satu sama lain, bahkan bisa berjodoh. Itu sih mitos, aku berpikiran seperti itu. Semua temanku menyetujui pendapat ibu guru itu. Setiap aku dan Juna hendak berdebat, kelasku langsung gaduh, berteriak aneh-aneh. Tiap kali itu terjadi, aku langsung menundukkan kepala. Menahan rasa, entah rasa apa itu aku tak tahu. Begitu pula dengan Juna, ia juga melakukan hal yang sama. Ketika hal itu terjadi, aku tak punya nyali kuat untuk menunjukkan ekspresi wajahku. Pernah sekali aku melirik ke arah Juna yang duduk di seberangku, ia tertunduk dan menahan senyum. Tapi aku jengkel. Karena kami selalu menjadi gosip terpanas yang harus diketahui.
Tak ada hentinya aku dan Juna berdebat dan beradu argumen. Untunglah gosip itu mereda secara perlahan. Mungkin mereka lelah. Tapi itu sangat menguntungkan aku, karena aku tak perlu lagi menyembunyikan wajahku. Hanya beberapa teman yang masih meggosipkanku dengan Juna. Aku cuek dengan gosip mereka. Tapi tidak dengan Juna, ia selalu tertawa kecil ketika gosip itu kembali merekah.
Hari-hari berlalu. Secara perlahan, aku dapat dengan Juna, perdebatan memang masih ada. Tapi karena aku adalah gadis yang lola – loading lama, Juna sedikit memaklumi. Jadi, kadang ia mengalah. Dan aku pun mulai bisa memahami karekter Juna, ia adalah seorang yang pandai, cerdas, humoris, pandai bergaul dan asyik ketika bercanda dan bisa menempatkan diri ketika harus serius. Tapi sayangnya, kadang ia sombong dan semaunya sendiri. Juna itu alay, narsis. Ia sadar kamera. Tidak ada bedanya dengan aku. Aku juga alay dan narsis. Bahkan, ketika ada waktu luang sedikit saja pasti aku berfoto.
Suatu ketika, setelah pelajaran olahraga, tiba-tiba Juna duduk di bangku sebelahku, tempat duduk Rara. Rara sedang berganti pakaian seragam, jadi bangkunya kosong. Tiba-tiba ia berkisah, menceritakan hidupnya dengan pacarnya yang ada di Bandung. Aku tahu Juna sudah punya pacar. Aku bukan kecewa, tapi aku terkejut. Aku heran, kenapa tiba-tiba Juna curhat padaku. Aku mengikuti alur ceritanya hari itu. Memperhatikannya. Sambil sesekali memberikan komentar mengenai ceritanya itu. Aku juga memberikan sedikit wejangan dan menasihatinya. Meskipun aku sendiri belum pernah pacaran, tapi aku juga pernah menyukai lawan jenisku. Aku juga perempuan, jadi aku tahu dan ikut merasakan bagaimana perasaan pacarnya Juna. Apalagi mereka menjalin hubungan jarak jauh.
“Yaa kalau kamu emang sayang sama dia, kamu harus menjaga dia. Apalagi kalian pacaran jarak jauh.” komentarku.
“Iyaa, Aya. Tapi aku sering banget bertengkar sama dia.” lanjut Juna.
“Hubungan pasti ada pertengkaran, perdebatan, perbedaan pendapat, kecemburuan. Itu wajar, Juna.” sambungku
“Apa itu tandanya aku masih bisa lanjut?” tanya Juna lagi.
“Selama kamu menikmati dan hatimu senang, kenapa enggak.” kataku.
“Okee sih, makasih yaa, Aya.” kata Juna.
“Okee, sama-sama.” balasku.
Sejak percakapan kecil itu, aku dan Juna menjadi dekat. Aku juga berani curhat sama Juna. Ternyata Juna adalah pendengar yang baik, dia mendengarkan perkataanku sampai selesai, memberikan nasihat kepadaku. Dia penyayang. Bahkan dia bisa bersikap dewasa ketika menghadapi kekanak-kanakanku. Itu yang membuat banyak orang yang nyaman dengan Juna meskipun kadang dia jahil dan sombong.
Ketika kakak kelas XII menjalani serangkaian ujian, teman-teman sekelasku merencanakan untuk main bareng. Malamnya Satria mengabari aku kalau besuk kelas mau main bareng ke Gunung Kidul. Aku menyetujuinya. Lalu aku juga menyebarkan pesan itu kepada teman yang lain. Balasan teman-temanku semua setuju atau tidak. Kecuali Juna. Ia justru membalas jauh dari topik pembicaraan.
“Aya, aku mau curhat. Boleh nggak?” isi pesan Juna.
“Boleh. Silahkan.” balasku singkat.
“Kalau aku suka sama Kirana menurutmu gimana?” Juna memulai curhatnya.
“Hah Kirana? Bukannya Satria udah suka duluan sama Kirana?” tanyaku heran.
“Yaa saingan dong.” jawab Juna singkat.
“Terus yang di Bandung?” kejarku lagi.
“Udah lepas.” jawab Juna lagi.
“Astagaa! Kenapa putus?” aku semakin penasaran.
“Dia makin aneh. Aku nggak betah. Udahlah, jangan dibahas lagi. Kirana gimana?” Juna memutuskan.

“Sejak kapan kamu suka sama Kirana?” tanyaku.
“Sebenernya sih, udah lama aku melirik dia.” jawab Juna mengakui.
“Alasanmu?” aku mengintrogasi Juna.
“Dia cantik, ngobrol sama aku nyambung. Terus senyumnya itu lhoo, bikin adeem haha.” jelas Juna.
“Yaa udah, aku ngikut kamu aja. Yang penting hatimu senang dan kamu bahagia. Tapi kamu harus bergerilya, jangan sampai menyakiti Satria.” pesanku.
“Siap bos!” balas Juna.
Jawaban itu sekaligus mengakhiri percakapan kami via SMS. Paginya, kelas kami main bareng. Semua berkumpul di rumah Yusuf. Yang cowok harus memboncengkan yang cewek karena jalannya nanjak. Semua sudah mendapatkan pasangan masing-masing. Tinggal aku dan Juna yang belum. Karena kebetulan aku agak terlambat. Begitu pula dengan Juna. Lalu teman-temanku memutuskan aku harus nebeng Juna.
“Haha Aya, kamu telat.” Rara memulai.
“Haha Juna juga telat.” Sambung Satria.
“Kalian janjian yaa haha.” Laras menimpali.
“Eng..enggak!” Aku dan Juna bersamaan.
“Ciyee.. kompak bangeet haha.” Sinta ikut menggoda. Sedangkan aku dan Juna cuma diam dan wajah kami seperti udang rebus. Merah padam.
Setelah tragedi itu, kami berangkat. Aku duduk di belakang Juna. Suasana perjalanan kami canggung. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya aku membuka pembicaraan, sekedar basa-basi menanyakan perkembangan hubungan Juna dengan Kirana untuk menghilangkan kecanggungan.
“Gimana gerilyamu, Jun?” aku memulai.
“Haha sukses dong, aku kontak dia terus haha.” jawab Juna bangga.
“Kirana merespon kamu?” tanyaku lagi.
“Iyaa dong haha.” balas Juna.
Lalu aku terus bertanya dan Juna dengan sabar menjawab semua pertanyaanku. Aku juga menanyakan keluarganya. Adiknya, kakaknya, papa mamanya, bahkan neneknya. Juna juga menjawab sambil bercanda di perjalanan. Aku juga bertanya pada Juna tentang kriteria cewek idaman Juna hanya untuk basa-basi saja.

“Juna, Juna. Emang cewek idaman kamu kayak gimana sih?” tanyaku polos.
“Hehe yang penting orang itu nyambung ngobrol sama aku.” jawabnya.
“Ooo..” jawabku datar.
“Ada satu lagi sebenarnya.” tambahnya.
“Apa?” tanyaku datar.
“Berjilbab.” jawab Juna singkat.
“Hah? Kenapa emang dengan cewek berjilbab?” tanyaku kaget.
“Yaa nggak papa. Gadis berjilbab itu cantik. Kalau yang enggak berjilbab itu udah sering lihat hihi.” jawab Juna.
“Ooh gitu. Berarti kamu nggak terpesona sama Rara?” Tanyaku heran.
“Biasa aja sih aku.” balas Juna sambil tersenyum.
“Ooh gituu.” jawabku setengah kagum. Ternyata cowok kayak Juna cara pandangnya bagus.
Sejak acara itu, aku dan Juna semakin dekat dan rekat. Setiap kali bertemu di sekolah dia curhat padaku mengenai Kirana. Tapi aku merasa kedekatan ini semakin aneh. Aku pernah melihat dia mencuri pandang ke arahku. Tak jarang juga tatapan mata kami bertemu. Dan bodohnya aku, aku tak bisa menata hati dan perasaanku. Aku tak tahu rasa apa yang kini ada di hatiku. Tapi getar ini nyata. Rasa sayang persahabatan tumbuh dengan sendirinya. Entah kapan rasa itu muncul, tapi baik aku atau Juna tak pernah mengungkapkan. Suatu ketika, kami bermain mencari kata singkat dalam permen. Dia menemukan kata ‘aku saying kamu’ dia mengatakan itu di depanku, tepat di hadapanku. Entah modus atau apa, yang jelas aku terguncang, kaget. Debaran jantung tak ada hentinya. Justru bertambah kencang. Untunglah aku bisa menata ulang hatiku, aku tertawa hambar lalu berkata ‘haha sampaikan aja ke dia.’
Kejadian itu membuatku merasa aneh dengan hatiku sendiri. Waktu terus bergulir, hingga terdengar kabar bahwa Juna akan pindah ke Lampung, Sumatra. Mendengar kabar itu, sontak aku tertunduk, hatiku terguncang. Ingin rasanya aku meneteskan air mata. Namun, aku sadar, aku di sekolah, di hadapan teman-temanku. Lagi pula aku bukan siapa-siapa Juna. Kami hanya berteman.

Tanggal keberangkatan tiba, setelah ujian kenaikan kelas. Tiket sudah di tangan Juna. Kaki telah kami injakkan di bandara Adi Soetjipto. Aku dan semua teman kelasku mengantar keberangkatan Juna. Sebelum benar-benar berpisah, teman-temanku berfoto dengan Juna. Begitu pula aku, aku foto  berdua saja dengan Juna, untuk pertama dan terakhir kalinya. Nomor pesawat Juna disebutkan. Itu tandanya Juna harus segera menaiki pesawatnya. Juna terburu-buru menaiki pesawatnya. Ingin rasanya aku berlari mengejar Juna, memeluk erat tubuhnya dan mengatakan ‘aku sayang kamu’. Tapi keinginan itu terhalang oleh rasa gengsi dan takutku. Karena aku sadar, aku bukan siapa-siapa Juna. Kami hanya berteman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar